Skip to content

Kesenian Budaya Mendu

Mendu merupakan seni pertunjukan tradisional masyarakat Melayu yang berkembang di Kepulauan Riau, termasuk di Kecamatan Jemaja, Kabupaten Kepulauan Anambas. Mendu Jemaja menggabungkan beberapa kesenian seperti drama, Tari Dangkuk, musik, dan Tari Gubang dalam satu pertunjukkan. Kesenian ini memiliki dua versi yaitu Mampok Atas dan Mampok Bawah. Perbedaan dari dua versi ini adalah Mampok Atas memiliki durasi pertunjukkan lebih lama yaitu 7 hari, sedangkan versi Mampok Bawah memiliki durasi yang lebih singkat yaitu selama 3 hari. Selain itu, cerita yang diangkat dalam kedua versi ini memiliki perbedaan, versi Mampok Atas memiliki alur cerita sebanyak 7 keturunan, sedangkan Mampok Bawah hanya memiliki 1 alur keturunan. 

Menurut budayawan di Desa Mampok, kesenian Mendu berasal dari India, kemudian menyebar ke Thailand, Natuna, hingga ke Jemaja. Di Jemaja sendiri, kesenian ini kemudian ditambahkan beberapa kesenian lokal sebagai pelengkap pertunjukkan. Namun, baik di Natuna dan Jemaja, Mendu memiliki cerita yang hampir sama. Mendu bercerita tentang berubahnya seorang putri kerajaan Melayu menjadi gajah karena terkena sihir dari raja Tiongkok. Sang raja pada mulanya memiliki keinginan untuk mempersunting anak gadis dari raja Melayu tersebut. Namun, oleh sang sultan Melayu lamaran tersebut ditolak, sehingga membuat sang penguasa Tiongkok menjadi murka. Segeralah raja Tiongkok mencari cara untuk membalas penolakan tersebut, salah satunya mencari dukun untuk menyihir keluarga sultan.

Sayangnya, pada akhirnya yang terkena sihir oleh raja Tiongkok adalah putri sultan itu sendiri. Namun, karena justru Sultan sendiri tidak tahu bahwa yang telah berubah menjadi gajah sendiri adalah anaknya, sang sultan memerintahkan untuk membunuhnya. Sang Sultan meminta seorang penjaga untuk menghabisi siluman gajah tersebut di hutan. Akan tetapi karena merasa iba, seorang penjaga tersebut hanya menyembelih seekor kancil untuk diambil darahnya sebagai barang bukti penjaga bahwa ia telah membunuh gajah jelmaan tersebut. Oleh sang penjaga, sang putri yang menjadi gajah dilepaskan ke dalam hutan sendiri. Pada akhirnya, sang putri dapat berubah menjadi manusia kembali karena dibantu oleh dua laki-laki bersaudara dari kahyangan. Sang putri pun akhirnya dapat kembali ke istana, dan ia menjadikan kakak dari dua laki-laki bersaudara tadi sebagai suaminya.