Skip to content

Kesenian Budaya Gubang

Gubang atau Gobang merupakan kesenian tarian masyarakat Melayu pesisir khususnya dari Pulau Jemaja, Kabupaten Kepulauan Anambas. Menurut cerita, kesenian ini berasal dari Desa Mampu—sebuah desa yang berada di sebuah pulau dari gugusan kepulauan Jemaja dengan hutan rimbun dan tepian laut yang kaya. Dikarenakan desa ini memiliki kekayaan alam yang luar biasa, membuat banyak masyarakatnya memiliki kehidupan yang makmur dan sejahtera. Para warga tidak perlu pergi ke luar desa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya meskipun berada di pulau tersendiri yang terpisah dari pulau utama, yaitu Pulau Jemaja. Namun, dikarenakan semakin lama desa tersebut semakin berkurang hasil alamnya, membuat satu per satu warganya mulai kesusahan. Akhirnya, hampir semua warga pindah ke Pulau Jemaja dan memilih sebuah kawasan berada di perbatasan Kecamatan Jemaja dan Jemaja Timur. Mereka menamakan tempat baru tersebut dengan nama ‘Desa Mampok’ yang diadaptasi dari nama desa mereka sebelum pindah.

Awal dari terciptanya kesenian Gobang adalah berawal dari rombongan pencari buah yang utamanya mencari buah Sawang dan Kelindang. Buah tersebut menjadi buah favorit masyarakat desa karena rasanya yang sangat enak dan segar. Namun, karena buah tersebut adalah buah hutan dan mulai langka, maka mencarinya juga harus di tengah rimba. Ada 4 orang pemuda dan 3 orang tua yang memasuki hutan untuk mencari buah tersebut. Orang-orang ini merupakan masyarakat desa yang sebenarnya sudah tau arah dan tempat di mana banyak buah itu tumbuh. Namun, dikatakan karena sudah takdir, ketujuh orang ini tersesat dan tidak dapat mencari jalan untuk pulang.

Karena hari sudah malam, para pencari buah ini akhirnya memilih untuk tidur di dekat semak-semak. Di tengah malam, mereka dikatakan mendengar bunyi-bunyian yang enak didengar, tetapi tidak tahu di mana arah sumber bunyi-bunyian tersebut. Akhirnya, setelah bersepakat ketujuh orang ini memilih untuk mencari asal dari bunyi dalam keadaan gelap gulita. Setelah dicari, akhirnya mereka menemukan kumpulan orang-orang yang tengah asik berpesta di rumah-rumah yang bercahaya yang dikelilingi hutan. Karena tertarik dengan kemeriahan pertunjukkan ketujuh pencari buah ini akhirnya memutuskan untuk ikut berpesta meskipun masih sedikit ragu-ragu. Untuk mencegah hal-hal buruk terjadi, sebelum berangkat tiga orang tua berpesan kepada 4 orang muda bahwa mereka tidak boleh datang ke dalam rumah orang-orang yang memainkan alat musik sebelum para orang tua datang dan telah dipersilakan oleh orang-orang tersebut. Para pemuda harus menunggu di balik semak-semak dan hanya masuk di bawah rumah (rumah panggung).

Akhirnya, para orang tua pun memberanikan diri masuk dan disambut secara luar biasa oleh para orang-orang itu (disebut orang Bunian). Dengan penuh gembira mereka dipersilakan masuk dan diajak berbincang-bincang ramah. Setelah beberapa saat berbincang, akhirnya salah satu dari orang tua menanyakan apa nama musik yang telah dimainkan tadi dan apakah mereka dapat mempelajarinya. Orang-orang itu kemudian membalas pertanyaan para Awang (sebutan orang-orang itu untuk para orang tua) bahwa musik tersebut dinamakan Ngumang (yang didengar orang tua menjadi Gubang) dan mempersilahkan mereka untuk memainkan alat-alat musik yang telah dimainkan. Orang-orang bunian menyanyikan total 18 lagu dan 7 lagu gendang panjang. Saat musik dimainkan para orang tua juga melihat beberapa orang memakai sebuah topeng (Ka) yang kelihatan lucu memenuhi pentas musik tersebut. Anehnya, para orang tua tadi dapat menghafalkan 18 lagu dan 7 lagu gendang meskipun pementasan baru berlangsung sebentar.

Rupanya, setelah berapa lama para orang tua menyadari bahwa orang-orang bunian memiliki maksud buruk di balik ramahnya jamuan mereka. Orang-orang bunian menginginkan 4 orang tua tadi untuk menjadi mangsa mereka. Namun, karena orang tua tadi adalah para dukun kuat di Desa Mampok, sehingga mereka sukar untuk dihabisi. Orang-orang bunian juga mengancam para orang tua dengan pantun, tetapi untungnya para orang tua mampu menjawab balasan pantun. Selain ditantang dengan pantun, para orang tua juga diajak untuk berkelahi, dan perkelahian ini terjadi saat babak lagu lanang.

Salah satu pantun dari orang bunian adalah “Sok Kisok Kintan-Kintan, Tiga Ikok Empat Petang”. Tak lama setelah terjadi perkelahian, sang surya pun muncul yang menandakan bahwa bahwa pagi hari telah datang. Tanpa disadari, para orang tua ternyata berada di atas batu yang dinaungi oleh pohon beringin atau pohon Ara. Sedangkan para pemuda ternyata berada di bawah batu yang dipijak oleh orang tua. Orang-orang bunian juga tiba-tiba menghilang dan tak ada satupun yang memainkan alat musik seperti tadi. Para orang tua menyadari bahwa ternyata orang-orang yang bermain musik bersama mereka tadi bukan orang sungguhan, melainkan adalah orang bunian berekor. Pemandangan di sekitarnya juga turut berubah, yang tadinya adalah rumah-rumah dengan penuh kemeriahan, berubah menjadi tepi laut yang tenang.

Akhirnya, karena telah berada di tepi laut, ketujuh pencari buah memutuskan untuk pulang saja menuju Desa Mampok. Dari ketujuh orang tersebut yang pulang, diadaptasi lah musik yang awalnya hanya dimainkan orang-orang bunian (terlebih para orang tua tiba-tiba hafal 18 lagu dan 7 lagu gendang). Selain itu, beberapa alat musik dan topeng-topeng juga dibuat meniru apa yang mereka lihat saat pentas musik kemarin. Karena sangat mengasyikan, banyak orang-orang Desa Mampok menjadi suka dengan kesenian ini. Di saat acara besar, tarian Gubang tidak luput dari pementasan. Sayangnya, menurut cerita kesenian ini tiba-tiba mati di saat pertunjukkan pernikahan seorang lelaki bernama Sri Lakang dengan orang Bugis. Terjadi sebuah pertengkaran dan kesalahpahaman yang menyebabkan Sri Lakang terbunuh. Hingga ke zaman Belanda, kesenian Gubang akhirnya muncul kembali dengan perubahan nama menjadi Gobang.

Pantun adaptasi dari ketujuh pencari buah ialah, “Sok Kisok Kintan-Kintan, Tiga Menutuk Empat Meruntun”.

Alat-Alat Pengiring Gubang

Kesenian Budaya Mendu

Mendu merupakan seni pertunjukan tradisional masyarakat Melayu yang berkembang di Kepulauan Riau, termasuk di Kecamatan Jemaja, Kabupaten Kepulauan Anambas. Mendu Jemaja menggabungkan beberapa kesenian seperti drama, Tari Dangkuk, musik, dan Tari Gubang dalam satu pertunjukkan. Kesenian ini memiliki dua versi yaitu Mampok Atas dan Mampok Bawah. Perbedaan dari dua versi ini adalah Mampok Atas memiliki durasi pertunjukkan lebih lama yaitu 7 hari, sedangkan versi Mampok Bawah memiliki durasi yang lebih singkat yaitu selama 3 hari. Selain itu, cerita yang diangkat dalam kedua versi ini memiliki perbedaan, versi Mampok Atas memiliki alur cerita sebanyak 7 keturunan, sedangkan Mampok Bawah hanya memiliki 1 alur keturunan

Menurut budayawan di Desa Mampok, kesenian Mendu berasal dari India, kemudian menyebar ke Thailand, Natuna, hingga ke Jemaja. Di Jemaja sendiri, kesenian ini kemudian ditambahkan beberapa kesenian lokal sebagai pelengkap pertunjukkan. Namun, baik di Natuna dan Jemaja, Mendu memiliki cerita yang hampir sama. Mendu bercerita tentang berubahnya seorang putri kerajaan Melayu menjadi gajah karena terkena sihir dari raja Tiongkok. Sang raja pada mulanya memiliki keinginan untuk mempersunting anak gadis dari raja Melayu tersebut. Namun, oleh sang sultan Melayu lamaran tersebut ditolak, sehingga membuat sang penguasa Tiongkok menjadi murka. Segeralah raja Tiongkok mencari cara untuk membalas penolakan tersebut, salah satunya mencari dukun untuk menyihir keluarga sultan.

Sayangnya, pada akhirnya yang terkena sihir oleh raja Tiongkok adalah putri sultan itu sendiri. Namun, karena justru Sultan sendiri tidak tahu bahwa yang telah berubah menjadi gajah sendiri adalah anaknya, sang sultan memerintahkan untuk membunuhnya. Sang Sultan meminta seorang penjaga untuk menghabisi siluman gajah tersebut di hutan. Akan tetapi karena merasa iba, seorang penjaga tersebut hanya menyembelih seekor kancil untuk diambil darahnya sebagai barang bukti penjaga bahwa ia telah membunuh gajah jelmaan tersebut. Oleh sang penjaga, sang putri yang menjadi gajah dilepaskan ke dalam hutan sendiri. Pada akhirnya, sang putri dapat berubah menjadi manusia kembali karena dibantu oleh dua laki-laki bersaudara dari kahyangan. Sang putri pun akhirnya dapat kembali ke istana, dan ia menjadikan kakak dari dua laki-laki bersaudara tadi sebagai suaminya.